Bridging the Public Service Motivation and Calling Literatures-Jeffery A. Thompson Robert K. Christensen (2018)
Bridging the Public Service Motivation and Calling Literatures
https://drive.google.com/file/d/1U0lkoewKRreXrDNCgt84zZaw_493SLvR/view?usp=drive_linkJurnal : Public Administration Review
Jeffery A. Thompson
Robert K. Christensen
Brigham Young University
Abstrak: sejauh mana ASN menganggap pekerjaan mereka sebagai panggilan ibu pertiwi
Tujuan: mengilustrasikan dan mengintegrasikan penelitian-penelitian terkait panggilan bekerja sebagai ASN menjadi lebih baik. Penelitian-penelitian yang bagus akan memberikan manfaat bagi para manajer organisasi publik untuk memotivasi pegawai dengan membantu pegawai dalam menemukan arti kebermaknaan dalam pekerjaan mereka. Penelitian ini bukan mengganti konstruksi PSM tetapi melengkapi penelitian untuk memperkuat pengalaman ASN dengan pekerjaan mereka
Bukti untuk practice
manager dapat memberikan motivasi dengan memberikan artikulasi penting terhadap pekerjaan mereka, visi dan manfaat dari pelayanan public service, mendemonstrasikan transformational leadership sebagai pemimpin perubahan yang mampu mempengaruhi nilai pegawai, dan mengangkat nilai.
Panggilan penelitian pada level-level Manajer dalam membantu memotivasi PSM mempengaruhi pegawai dengan menggunakan komunikasi yang menarik untuk menanamkan PSM yang lebih besar. Manajer harus mencari cara bagaimana mengaktifkan panggilan bekerja di pelayanan publik karena panggilan pelayanan adalah sifat yang mengakat yang harus diaktifkan diantaranya melalui kebutuhan eksternal pekerjaan yang berarti dan memberikan keasikan serta kepuasan kedalam diri pegawai tentang kecocokan mereka pada pekerjaan. – Kondisi : sifat gado-gado pekerjaan membuat pegawai tidak benar-benar menemukan atau menjiwai pekerjaannya dengan alasan penyegaran, ke depan harus dalam jenis pekerjaan yang serumpun.
Manager mengadopsi perspektif panggilan untuk menempatkan pegawai dengan bakat alamiah, menyesuaikan pekerjaan agar selaras dengan bakat mereka. serta memberikan otonomi serta partisipasi dalam membentuk serta menyusun pekerjaanya agar pegawai bersemangat dan bertanggung jawab
Pendahuluan
Sering kali ASN dianggap bekerja tidak serius dan tidak termotivasi dengan pekerjaannya (Rosenbloom 2014 , vii), tetapi tidak semua pegawai seperti itu karena banyak juga yang memahami arti penting pekerjaanya dan sangat termotivasi dengan pekerjaannya untuk melayani masyarakat (Goodsell, 2004). Mereka yang termotivasi pada pelayanan publik akan menentukan pilihan bekerja di sektor publik, peningkatan kinerja dan komitmen pada organisasi karena adanya kecocokan antara tujuan individu dan organisasi (Rits, Brewer, dan Neumann, 2016, 421). Orientasi terhadap mereka yang termotivasi PSM adalah memberikan yang terbaik pada orang lain dan masyarakat (Perry and Hondeghem 2008 , vii),
Konsep PSM terus berlanjut dan berkembang pesat dalam administrasi publik (Rits, Brewer, dan Neumann, 2016). Konsep PSM ini juga sangat berkaitan dengan konsep-konsep yang lain dalam disiplin ilmu lain sehingga perlu dibuat garis pemisah yang jelas tentang PSM (Bozeman dan Su 2015 ) Calling merupakan kata yang spesifik yang bermakna psikologis yang mengandung arti bermakna, afeksi dan menjadi motivational implications. Panggilan lebih merujuk pada cognitive framework. Konsep yang memiliki arti noble, meaningful, dan sangat berarti. Konsep motivasi ini melekat di dalam PSM (Thompson & Christensen, 2018)
"Work as a Calling", mereka yang bekerja karena panggilan hati adalah panggilan dari psikologis, atau kebutuhan internal terhadap pekerjaan. Memahami bahwa pekerjaannya adalah cita-citanya yang diimpikan secara minat bukan dari bayangan semu tetapi kebutuhan yang sebenarnya. Pegawai publik bekerja karena panggilan tersebut menurut beberapa peneliti (Rainey, 1982; Wittmer, 1991). Panggilan karena kesesuaian nilai yang ada pada pekerjaan dengan nilai yang ada pada individu. Pegawai lebih tertarik karena pekerjaannya bukan karena gajinya.
Pekerjaan pegawai publik adalah pekerjaan utama bagi banyak orang. Bensman dan Rosenberg (1960) menggambarkan bahwa banyak juga ASN yang awalnya memiliki semangat motivasi yang tinggi dalam pekerjaannya tetapi akhirnya gagal menemukan motivasi tersebut dalam pekerjaan dan kehilangan tujuan. Artikel ini mencoba mengeksplorasi kebermaknaan dalam bekerja di sektor publik dan meningkatkan pemahaman tersebut dengan penelitian. Perspektif mengenai panggilan dalam administrasi publik akan mengidentifikasikan bagaimana menemukan makna dari dalam pekerjaan pelayanan publik. Kebermaknaan arti bekerja yang telah mapan di pelajari di sektor bisnis dan telah membuat brand pekerjaan dan memanggil pegawai dengan brand tersebut
Calling: Evolution and Definition
Konsep panggilan memiliki makna yang sangat mendalam, selain pengalaman kognitif lebih pada panggilan jiwa atau panggilan hati yang sangat dekat maknanya dengan konsep yang ada pada agama. Dan konsep ini berkembang menjadi pandangan sekuler yang diakses secara luas
Pandangan Klasik
Martin luther (1883) yang menggambarkan bagaimana sebuah pekerjaan dapat menjadi panggilan jiwa bukan hanya memenuhi kebutuhan materi Pekerjaan yang membantu orang akan bermakna mulia seperti tukang sapu, pandai besi, tukang kue. terdapat signifikansi transenden spiritual dalam pekerjaan tersebut. Menggunakan konsep panggilan jiwa kepada pekerjaan yang bermanfaat akan memotivasi pegawai. "Contoh bekerja adalah ibadah". Calvin berpendapat, Tuhan menolong seseorang melalui tangan-tangan manusia lainnya (Hardy, 1990)
Contemporary Secular View
Fondasi klasik ini memposisikan panggilan sebagai prinsip utama etos kerja Protestan, yang telah membentuk narasi kerja di abad sejak Reformasi. Panggilan kerja juga merupakan suatu ketertarikan yang kuat dalam mengidentifikasi diri dengan pekerjaan, sebuah pekerjaan impian dengan bayangan terhadap pekerjaan dan karakter diri. Pekerjaan impian selalu menjadi bayangan dan keinginan sesuai dengan minat hati, tapi kondisi realita sering merusak pikiran tersebut dan menggagalkan panggilan jiwa seolah-olah hal tersebut adalah mimpi. Panggilan adalah sesuatu yang menggairahkan, menggetarkan anda dengan kesenangan. Definisi panggilan dari fokus klasik pada kewajiban untuk melayani orang lain untuk fokus kontemporer pada pemenuhan pribadi. Munculnya konseptualisasi ini bertepatan dengan munculnya generasi untuk siapa pencarian pekerjaan yang bermakna adalah kepentingan utama (Poswolsky 2014 ) dan proses pemanggilan penemuan difokuskan mengejar nafsu dan kesenangan
Namun, konsep panggilan kontemporer berbeda dari klasik karena cenderung mengutamakan personal pemenuhan, sementara versi Lutherian berakar dengan jelas kewajiban untuk mengorbankan diri atas nama orang lain. Pandangan kontemporer yang berbeda dari klasik. Pandangan kontemporer lebih pada pemenuhan pribadi bukan perhatian mendalam pada pengorbanan untuk melayani sosial atau orang lain (Bellah dkk, 1985). Dobrow dan Tosti-Kharas (2011) mendefinisikan calling pada suatu pekerjaan adalah ketertarikan minat yang besar atas pekerjaan dilatarbelakangi oleh gairah diri. Perbedaan mendasar panggilan jiwa pekerjaan konsep klasik dan kontemporer adalah konsep kontemporer lebih mementing kan gairah pribadi sedangkan klasik adalah pengorbanan.
Salah satu kontribusi paling penting dari penelitian kontemporer adalah kerangka tripartit yang dikembangkan oleh (Bellah et al, 1985). Wrzesniewski et al. (1997) mengoperasionalkannya menjadi ukuran pekerjaan, karir, atau orientasi panggilan.
Orang dengan pandangan orientasi pekerjaan melihat pekerjaan mereka hanya sebatas tujuan financial, mereka bekerja terutama untuk gaji, bukan untuk hadiah intrinsik.
Orang dengan orientasi karir termotivasi untuk maju melalui pencapaian hirarki dan mendapatkan penghargaan, promosi dan rasa hormat dari orang lain. (need of power)
Orang dengan orientasi sebagai panggilan jiwa melihat pekerjaan sebagai dirinya sendiri dan tujuan hidupnya atau sebagai ekspresi atau sebagai identitas profesional mereka.
Wrzesniewski et al.’s (1997) penelitian menggunakan langkah-langkah ini menunjukkan bahwa orang dengan orientasi panggilan mengalami kepuasan kerja dan hidup yang lebih tinggi dan absensi yang lebih sedikit. Pekerja dengan orientasi karir memberikan manfaat struktur untuk berpikir tentang bagaimana orang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Dia juga memberikan cara berpikir yang lebih halus tentang PSM daripada para sarjana mempekerjakan saat ini. Kerangka tersebut dengan demikian menjanjikan potensi untuk ditambahkan nuansa penelitian PSM.
Neoklasik View
Dik dan Duffy 's ( 2009 , 427) mendefinisikan panggilan eksplisit dalam nilai-nilai yaitu “panggilan transenden pengalaman yang berasal di luar diri, untuk mendekati tertentu peran hidup dengan cara yang berorientasi pada menunjukkan atau menurunkan rasa tujuan atau kebermaknaan dan yang berorientasi pada orang lain nilai dan tujuan sebagai sumber motivasi utama.” Era penelitian panggilan neoklasik muncul dengan penelitian Bunderson dan Thompson (2009) mengenai pekerjaan sebagai penjaga kebun binatang / zookeeper. Berdasarkan wawancara dengan zookeeper menyatakan pekerjaanya merupakan panggilan alam sangat erat kaitannya dengan panggilan yang dianut oleh Luther dan Calvin, meskipun tanpa nuansa keagamaan.
Secara khusus, penjaga kebun binatang menggambarkan penemuan panggilan seseorang sebagai proses menemukan konvergensi antara karunia alami seseorang dan tuntutan masalah sosial yang disebabkan oleh keadaan hidup seseorang melayani. Menurut pandangan neoklasik panggilan adalah “tempat itu di pembagian kerja pekerjaan dalam masyarakat yang seseorang merasa ditakdirkan untuk diisi berdasarkan karunia, bakat, dan/atau kehidupan istimewa tertentu” (Bunderson dan Thompson’s (2009, 38). Aspek pemanggilan yang muncul dalam penelitian ini meliputi:
Pentingnya "Hubungan atau keterkaitan"—merasakan panggilan mereka untuk bekerja di kebun binatang ;
Persepsi tentang "takdir"— menganggap bahwa takdir memilihnya pekerjaan yang paling tepat;
Perasaan kewajiban untuk melayani — penjaga kebun binatang dengan panggilan mengungkapkan perasaan kewajiban moral untuk melayani hewan dalam tanggung jawab mereka;
Asosiasi dengan pengorbanan — penjaga kebun binatang dengan panggilan dilaporkan kemauan yang lebih besar untuk membuat pengorbanan pribadi untuk hewan mereka dan untuk kebun binatang.
Pandangan neoklasik tentang panggilan tampaknya sangat erat kaitannya dengan publik pekerjaan sektor/jasa. Penekanannya pada kewajiban untuk melayani tujuan menjelaskan mengapa penjaga kebun binatang bersedia bekerja dengan gaji yang jauh lebih rendah daripada yang mungkin mereka terima di bidang pekerjaan lain. Pelayanan Publik sering membuat pengorbanan serupa karena kewajiban yang dirasakan memberikan pelayanan publik. Pelayanan publik lebih berarti dibanding sektor swasta yang memberikan pendapatan dan prestise yang lebih besar. Konsep panggilan ini menjelaskan mengapa orang dapat tetap sangat puas dengan pekerjaan mereka ketika mereka berada di lingkungan dengan sumber daya yang terbatas dan pengorbanan pribadi yang tinggi. Pandangan neoklasik menganut gagasan bahwa makna yang dalam datang hanya melalui pengorbanan dan kesulitan; gagasan ini jelas beresonansi dalam pelayanan publik. Bahkan, pelayanan publik dapat menjadi konteks yang ideal
Tiga pandangan berbeda tentang panggilan dalam hal bagaimana pengalaman orang proses penemuan dimana orang sampai pada panggilan, dan definisi formal yang digunakan para sarjana untuk membedakannya.
Qualitative analyses include Berg, Grant, and Johnson ’ s ( 2010 ) study of teachers who felt they had missed their callings; Hunter, Dik, and Banning ’ s ( 2010 ) study of college students seeking their own calling; and Schabram and Maitlis ’ s ( 2017 ) study of animal shelter workers and how they navigated a sense of calling in the face of emotional challenges.
Namun, sebagian besar penelitian panggilan bersifat kuantitatif. Peneliti telah mencoba untuk merancang sejumlah besar skala panggilan, tetapi beberapa instrumen yang divalidasi patut diperhatikan karena mereka telah muncul di jurnal tingkat atas atau sering dipekerjakan. Masing-masing ukuran tersebut cenderung menekankan unsur panggilan tertentu. Misalnya, Panggilan dan Panggilan Kuesioner (Dik et al. 2012 ) memasukkan subskala untuk transenden panggilan, pekerjaan yang bertujuan, dan orientasi prososial. Dobrow dan skala panggilan Tosti-Kharas (2011) menekankan gairah, identifikasi dengan profesi, dan rasa takdir tentang pekerjaan seseorang. Ukuran neoklasik Bunderson dan Thompson (2009) berfokus pada keyakinan bahwa seseorang ditakdirkan untuk melayani tujuan tertentu. Berbagai pendekatan pengukuran menyoroti salah satunya tantangan memanggil penelitian.
Fokus instrumen yang berbeda membuka pengukuran dengan instrumen yang lebih khusus. Memilih fokus peneliti untuk menentukan ukuran yang paling dekat dengan aspek yang diperiksa. Bunderson dan ukuran Thompson (2009) mungkin yang paling relevan untuk sarjana pelayanan publik karena itu adalah satu-satunya ukuran yang telah terbukti terkait dengan jenis pengorbanan keuangan dan pribadi yang sering dibutuhkan oleh pelayanan publik. Penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa ada beragam hasil positif terkait dengan kesejahteraan dan motivasi karyawan (Dobrow dan Tosti-Kharas 2011 ; Duffy dan Dik 2013 ; Wrzesniewski et al. 1997 ). Memanggil telah terbukti mempromosikan self-efficacy dan motivasi / keterlibatan intrinsik (Bunderson dan Thompson 2009 ; Dobrow dan Tosti-Kharas 2011 ).
Penelitian tentang “Panggilan” menunjukkan efek yang bermanfaat pada hubungan antara majikan dan karyawan. Keterikatan organisasi meningkat ketika orang melihat organisasi mereka sebagai alat dalam mengejar mereka panggilan (Cardador, Dane, dan Pratt 2011 ). “Panggilan” tampaknya memiliki efek positif yang kuat pada komitmen organisasi juga, bahkan ketika karyawan merasa bahwa organisasi lalai (Bunderson dan Thompson 2009; Schabram dan Maitlis 2017 ). Penelitian kuantitatif baru-baru ini juga menunjukkan “sisi gelap” Misalnya, musisi dengan rasa panggilan yang kuat di awal kehidupan cenderung mengembang persepsi mereka tentang kemampuan mereka sendiri (Dobrow dan Heller 2015) dan kurang menerima saran karir (Dobrow dan Tosti-Kharas 2012 ). Zookeepers dengan rasa yang panggilan yang kuat memikul beban tugas moral dan pengorbanan dan menunjukkan lebih banyak kritik terhadap manajemen dan rekan mereka karyawan (Bunderson dan Thompson 2009). Namun, Panggilan yang kuat dapat berefek pada konflik pekerjaan-keluarga, disebabkan oleh komitmen intens yang dapat dikaitkan dengan panggilan (Nielsen et al. 2018 ).
Sekali lagi, penelitian kuantitatif difokuskan secara khusus pada administrasi publik adalah langka. Kami mengantisipasi bahwa penelitian semacam itu dapat menghasilkan wawasan yang lebih kaya tentang kedua anteseden tersebut dan hasil yang terkait dengan pemanggilan. Penelitian panggilan belum hati-hati memeriksa proses yang dengannya panggilan ditemukan. Dobrow dan Tosti-Kharas (2012) memberikan wawasan berharga ke dalam efek awal orientasi panggilan pada masa remaja tetapi tidak meneliti proses penemuan melalui di mana subjek mereka menyadari bahwa mereka dimaksudkan untuk menjadi musisi. Bott dan Duffy (2015), dalam studi longitudinal sarjana perguruan tinggi, menunjukkan bahwa orang-orang muda lebih mungkin untuk mengalami panggilan di kemudian hari ketika mereka secara eksplisit mencari makna sebagai mahasiswa dan sengaja terlibat dalam perbaikan diri. Temuan ini menunjukkan beberapa pendahuluan petunjuk tentang apa yang mempengaruhi seseorang untuk menemukan panggilan dalam hidup. Namun, mereka tidak menentukan pengalaman mengenai jalan menuju panggilan. Mungkin panggilan tidak ditemukan dalam satu peristiwa penting atau epifani. Sebagai Duckworth (2016) berpendapat, kebanyakan orang cenderung "jatuh cinta" dengan pekerjaan mereka melalui proses latihan ketabahan dari waktu ke waktu dalam menghadapi rintangan. Gagasan bahwa pekerjaan menjadi bermakna melalui usaha dan pengorbanan adalah konsisten dengan pandangan neoklasik panggilan.
Pertanyaan terkait penemuan panggilan adalah seberapa umum itu. Wrzesniewski et al. (1997) menunjukkan pemanggilan mungkin lebih umum daripada yang mungkin kita duga; misalnya, bahwa asisten administrasi hampir sama cenderung mengalami rasa terpanggil sebagai orang yang bekerja di lebih banyak kerja ideologis yang nyata. Namun, kita tahu relatif sedikit tentang pervasiveness orientasi panggilan atau sejauh mana terjadinya pemanggilan berbeda menurut profesi atau organisasi. Singkatnya, dibutuhkan lebih banyak pekerjaan untuk mengeksplorasi fenomena penemuan “panggilan”. Kalau tidak, panggilan dapat dipandang sebagai mistik dan karenanya mungkin tidak dapat diakses oleh banyak orang. Penelitian sektor publik bisa mengambil manfaat besar untuk penyelidikan ini. Misalnya, studi longitudinal tentang pemuda yang menunjukkan minat awal pada pemerintah bisa mengungkapkan tonggak penting yang menjadi ciri perkembangan panggilan kemudian dalam karir administrasi publik mereka.
Dengan mempertimbangkan fitur-fitur panggilan penelitian ini relevan dengan PSM karena beberapa alasan penting. Pertama, sementara PSM mengilustrasikan ketertarikan individu terhadap layanan publik sebagai karier, layanan publik terdiri dari banyak pemanggilan potensial tertentu. Contohnya, sementara seorang individu mungkin merasa tertarik pada pelayanan publik karena PSM atau mungkin merasa tertarik secara khusus pada profesi pekerjaanya, contoh sebagai kepolisian, pekerjaan sosial, dinas militer, atau perencanaan kota karena rasa panggilan. PSM diposisikan secara unik untuk dijelajahi pertanyaan tentang apakah panggilan yang berbeda dalam pelayanan publik lebih atau kurang bergantung pada PSM (misalnya, apakah pekerja sosial memiliki rasa panggilan dari, katakanlah, pegawai administrasi meskipun tingkat yang sama PSM?). Kedua, fokus baru-baru ini menyebut penelitian tentang “sisi gelap” panggilan dapat merangsang area penyelidikan baru untuk PSM. PSM tingkat tinggi, seperti panggilan tingkat tinggi, menimbulkan resistensi untuk umpan balik (Dobrow dan Tosti-Kharas 2012), tekanan pada keluarga (Kreiner, Hollensbe, and Sheep 2009 ), atau kritik terhadap manajemen dan sesama karyawan (Bunderson dan Thompson 2009).
Exposing PSM to Rival and Complementary Concepts: The Calling Connection
Literatur PSM telah berkembang cukup pesat selama ini 20 tahun. Ulasan terbaru Ritz, Brewer, dan Neumann (2016) menyoroti kontribusinya dan mengidentifikasi pola yang relevan dengan diskusi kita di sini. Pertama, sekitar 12 persen dari lebih dari 300 artikel berurusan dengan konseptualisasi, mendefinisikan, atau berteori tentang PSM (termasuk integrasi dengan yang lain teori). Kedua, Ritz, Brewer, dan Neumann (2016) mengamati bahwa “motivasi pelayanan publik tetap terikat erat dengan bidang administrasi publik” dan sebagian besar dari kontributor PSM dilatih dalam administrasi publik. Tersirat dalam hal ini observasi adalah kebutuhan untuk mengekspos, membandingkan, kontras, dan mengintegrasikan PSM dengan konsep lain—termasuk yang lebih sering digunakan luar bidang administrasi publik. Bozeman dan Su ( 2015 , 703) memperkuat pengamatan ini dalam kritik terhadap PSM, mencatat bahwa “sementara hubungannya dengan altruisme tetap ada batu sandungan konseptual, PSM menderita saingan konseptual lainnya. Misalnya, pengertian 'membantu orang lain' dan 'motif prososial' memiliki sejarah panjang sebagai konsep yang berbeda tetapi juga digulirkan ke dalam beberapa konsep PSM.” Dalam menanggapi kritik ini, adalah panggilan itu bidang penyelidikan eksternal yang sangat menjanjikan di mana PSM harus diekspos.
Brewer, Selden, dan Facer (2000) menemukan bahwa permukaan dari panggilan adalah tema tentang patriotisme, salah satu dari empat individu konsepsi PSM dalam studi mereka. Dalam studi Houston (2006) menggunakan Data Survei Sosial Umum, ia mengkonotasikan tautan eksplisit “panggilan” dalam beberapa tempat:
Konsisten dengan kebijaksanaan konvensional dalam administrasi publik bahwa pekerjaan pemerintah adalah panggilan, PSM menganggap birokrat dicirikan oleh etika untuk melayani publik. Mereka bertindak berdasarkan komitmen terhadap kesamaan baik daripada sekedar kepentingan diri sendiri. Oleh karena itu, mereka termotivasi dengan pahala yang berbeda dari mereka yang tidak menjawab panggilan.
Pekerjaan di sektor publik sering digambarkan sebagai panggilan, rasa kewajiban, bukan pekerjaan. . . . Contohnya Frederickson (1997) mengacu pada “panggilan pelayanan publik” sebagai inti dari “semangat administrasi publik.” (68)
Profesi administrasi publik biasanya dipandang sebagai panggilan khusus, dan mereka yang menjawab panggilan itu dianggap berbeda dengan mereka yang tidak. (81)
Bozeman dan Su ( 2015 , 704) juga tampaknya mengeksplorasi potensi ini mendesak kejelasan konseptual dan meningkatkan pertanyaan: “Apa sifat dari ‘panggilan’ sekuler? Apakah Menjadi pegawai pemerintah untuk dipanggil dan untuk memiliki 'komitmen untuk kebaikan bersama daripada sekadar kepentingan pribadi’?” Kami mengembangkan kerangka kerja untuk melibatkan ini dan yang terkait pertanyaan pada bagian berikut.
How Are Calling and PSM Different?
Tampak jelas bahwa “Panggilan” dan PSM mencakup beberapa hal yang sama dalam ruang konseptual. Keduanya berusaha untuk menggambarkan orientasi terhadap pekerjaan, di mana kebutuhan orang lain lebih diutamakan daripada kebutuhan pribadi. Keduanya memiliki implikasi normatif tentang makna kerja, yaitu bahwa harus memberikan nilai sosial. Dan keduanya masuk akal di bawah rubrik yang lebih besar dari organisasi positif yang berfokus pada penyimpangan positif daripada negatif dalam organisasi dalam upaya untuk mengidentifikasi cara organisasi dapat meningkatkan pekerjaan karyawan melalui pengalaman (Cameron, Dutton, dan Quinn 2003). Baik ‘Panggilan” maupun PSM menggambarkan status kebermaknaan kerja yang tinggi. Terlepas dari tumpang tindih yang jelas ini, PSM dan panggilan secara konseptual berbeda. Kedua konsep berbeda dalam cara mereka mendekati pertanyaan tentang motivasi dan implikasi yang dapat ditarik darinya. Apalagi mengingat kekhawatiran tentang underexposure dari PSM ke konstruksi lain, kami menganggap panggilan sebagai penyediaan wawasan tambahan yang mungkin bermanfaat bagi pemahaman kita tentang apa membuat pegawai negeri tergerak. “Panggilan” tidak dapat menggantikan PSM. Kami berpendapat bahwa kedua konsep itu saling melengkapi; mereka menyediakan dua lensa berharga yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan arti pekerjaan di sektor publik. Sebagai gambaran umum, tabel 2 berfungsi sebagai kerangka kerja untuk mengidentifikasi perbedaan, tumpang tindih, dan potensi sinergi antara PSM dan panggilan. Kami akan membahas secara singkat setiap elemen tabel, meliputi fitur-fitur berikut: definisi/dimensi, pertanyaan mendasar, fokus, peran konteks, pandangan individu, intensitas, spesialisasi, keniscayaan, proses penemuan, dan pengungkit manajerial.
Definitional Features
Literatur Panggilan dan PSM keduanya diisi dengan banyak, sering berbeda, definisi. Daripada menganjurkan untuk satu definisi untuk salah satu konstruksi, kami telah, dalam tabel 2, dipertimbangkan beberapa contoh definisi yang paling menonjol dan menggunakan bahasa untuk menggambarkan fitur dasar konstruksi. Membaca fitur-fitur definisi ini, jelas panggilan dan PSM tumpang tindih dalam penekanan mereka pada layanan berorientasi lain (Brewer, Selden, dan Facer 2000; Dik dan Duffy 2009 ). Sebaliknya, PSM awalnya membatasi sektor atau layanan pilihan industri sebagai implisit untuk definisi (Perry dan Wise 1990). Ilmuwan baru-baru ini, bagaimanapun, telah memperluas pandangan itu, menyarankan bahwa PSM dapat berlaku untuk semua pekerjaan pelayanan publik—apapun sektornya (Christensen dan Wright 2011 ; Moulton dan Feeney 2011 )—termasuk bekerja di sektor nirlaba (Clerkin dan Coggburn 2012 ; Taylor 2010 ) dan bekerja berpusat pada komitmen umum untuk masyarakat (Nowell et al. 2016 ). Definisi kontemporer PSM mencerminkan cakupan yang lebih luas ini; misalnya, Vandenabeele (2007, 547) menjelaskan PSM sebagai “keyakinan, nilai, dan sikap yang melampaui kepentingan pribadi dan kepentingan organisasi yang menyangkut kepentingan entitas politik yang lebih besar dan memotivasi individu untuk bertindak sesuai“.
“Panggilan” di sisi lain, tidak pernah dikaitkan dengan sektor tertentu melainkan berkonotasi dengan sifat spesifik seseorang karya dan proses penemuannya, yaitu pemberian pribadi, nafsu, penyebab, dan rasa takdir yang mengarahkan seseorang untuk fokus pada jenis pekerjaan yang didefinisikan secara ketat (lihat Bunderson dan Thompson 2009 ; Dobrow dan Tosti-Kharas 2011 ). “panggilan” juga didefinisikan sebagai kebutuhan masyarakat tertentu yang mengundang pekerja di cara yang unik (Dik dan Duffy 2009 ). Sarjana PSM telah mencapai konsensus bahwa konstruk tersebut multidimensi, meskipun satu dimensi—ketertarikan pada kebijakan pembuatan—masih kontroversial (Ritz 2011 ). Dimensi PSM yang menyempurnakan definisi panggilan meliputi pengorbanan diri, kasih sayang, dan komitmen untuk kepentingan publik / nilai-nilai publik (Perry 1996 ; Kim et al. 2013 ). Memanggil penelitian tidak memberikan konsensus tentang dimensi, menunjukkan kebutuhan untuk lebih lanjut pembangunan di lapangan.
Underlying Question
PSM dan panggilan dirancang untuk menarik pertanyaan yang berbeda satu mungkin bertanya tentang pekerjaan. PSM mengajukan pertanyaan sektor mana atau dengan definisi yang diperluas, pekerjaan yang melayani publik—apakah publik, nirlaba, atau swasta (lihat Christensen dan Wright 2011 ;Clerkin dan Coggburn 2012 ; Moulton dan Feeney 2011 )—Dengan kata lain, itu menjawab pertanyaan, “Di mana saya harus bekerja?” dengan memberikan keutamaan kepada publik penerima manfaat secara umum. “Panggilan”, mengajukan pertanyaan yang berbeda, "Pekerjaan apa yang harus saya lakukan?" seberapa kuatnya pekerjaan tersebut dengan diri seseorang.
Mengingat perbedaan dalam pertanyaan mendasar, Penelitian PSM dan panggilan cenderung mengarah pada berbagai bentuk penyelidikan. Sementara PSM peneliti telah secara efektif mengidentifikasi anteseden, berkorelasi, dan beberapa konsekuensi dari PSM, sebagian besar penelitian telah difokuskan pada perbedaan lintas sektor atau pengaturan kerja. penelitian “Panggilan”, di sisi lain, telah mendalami jenis pekerjaan tertentu (mis., Bunderson dan Thompson 2009 ; Dobrow dan Tosti Kharas 2011 ;Schabram dan Maitlis 2017 ) untuk memeriksa ciri-ciri orang yang mengalami pekerjaan sebagai panggilan dan individu hasil yang terkait dengannya.
Focus
Fokus penelitian PSM bersifat komunal (Brewer, Selden, dan Facer 2000; Nowell dkk. 2016). Orang-orang yang memiliki PSM tinggi berusaha untuk menguntungkan komunitas mereka atau masyarakat secara keseluruhan, tetapi konsep tidak memberikan panduan normatif yang spesifik tentang cara yang tepat bagi seseorang untuk melakukan ini. Beberapa penelitian telah secara sistematis mengidentifikasi manusia strategi sumber daya yang dapat memanfaatkan PSM individu (Ritz, Brewer, dan Neumann 2016 ). Konsep “panggilan”, di sisi lain, menyiratkan suatu fokus individual yang tinggi, dimulai dengan asumsi bahwa pekerja memiliki bakat unik dalam suatu pekerjaan yang membedakan mereka dari orang lain, yang mungkin merasa terpanggil dengan cara yang berbeda dari mereka. “Panggilan” merupakan fungsi keunikan individu, bukan nilai komunal bersama. Studi yang menunjukkan keunikan dalam “panggilan” bahkan dalam profesi yang sama termasuk Schabram dan Pemeriksaan Maitlis (2017) terhadap pekerja penampungan hewan dan Berg, Penelitian Grant, dan Johnson (2010) tentang guru sekolah menengah. Tentu saja, seperti PSM, definisi panggilan termasuk unsur kuat lainnya orientasi. Namun, jalan dimana seseorang memberikan pelayanan kepada orang lain sangat spesifik dan istimewa untuk memanggil (Bellah et al. 1985).
Role of Context
Terkait dengan fokus, PSM mengedepankan pandangan konteks yang luas.Konteks PSM banyak dikaitkan dengan konteks publik layanan, meskipun, seperti disebutkan sebelumnya tidak terbatas pada sektor pemerintah. Untuk seseorang yang memiliki PSM tinggi, konteks layanan publik sangat penting, dan arti-pentingnya berarti orang-orang PSM tinggi akan menyesuaikan diri dengan sinyal organisasi yang luas dampak institusi terhadap masyarakat (Steijn 2008). Panggilan, sebaliknya, mengadopsi bentuk kontekstualisasi yang sangat lokal. Orang-orang tinggi “panggilan” membentuk keistimewaan yang kuat keterikatan pada jenis pekerjaan yang sangat spesifik—fokus mikro pada pekerjaan mereka, dampak individu pada penerima manfaat tertentu. Misalnya, penjaga kebun binatang dengan panggilan mengevaluasi kontribusi mereka dalam hal manfaatnya untuk hewan tertentu yang mereka rawat, lebih daripada yang lebih luas tujuan pelestarian ekologis (Bunderson dan Thompson 2009 ).
Bidang perhatian kontekstual yang menyempit berarti demikian orang dengan “panggilan” mendapatkan kepuasan mereka lebih dari pekerjaan sendiri dan kurang dari kebijakan dan manajemen organisasi. (Memang, penjaga kebun binatang di ruang kerja Bunderson dan Thompson cenderung mengungkapkan ketidakpuasan yang kuat dengan manajemen dan belum mempertahankan tingkat keterikatan yang sangat tinggi pada pekerjaan mereka). Seperti yang diamati oleh Pratt dan Ashforth (2003, 322), “panggilan” mungkin secara implisit meremehkan pentingnya konteks,” yang berarti bahwa organisasi memiliki dampak yang lebih kecil pada sikap karyawan bagi orang-orang yang memiliki “panggilan tinggi”
View of the Individual
Literatur terkait PSM dan “panggilan” juga berbeda dalam penggambarannya peran individu dalam orientasinya terhadap pekerjaan. Sarjana kontemporer sebagian besar memandang PSM sebagai adil, sifat disposisi stabil (Wright, Hassan, dan Christensen 2017). Dengan demikian, tingkat PSM seseorang adalah masalah derajat, diukur sepanjang spektrum tinggi-rendah. “Panggilan” di sisi lain, menghadirkan hadiah dan minat istimewa individu dan, secara konseptual, lebih merupakan perbedaan jenis daripada gelar (terlepas dari kenyataan bahwa banyak instrumen menggunakan ukuran skala yang nyaman untuk menggambarkan membangun). Memanggil tidak direpresentasikan sebagai disposisi karena itu bukan sifat yang harus bepergian dengan karyawan seperti mereka mengganti pekerjaan. Alih-alih suatu sifat, itu adalah keadaan yang bergantung pada apakah posisi seseorang memungkinkan pelaksanaan panggilan. Riset menunjukkan bahwa seseorang dengan panggilan dalam satu pekerjaan tidak belum tentu mengalami rasa memanggil orang lain (lihat, misalnya, Berg, Grant, dan Johnson 2010 , tentang pemanggilan tidak terjawab). Kesimpulan, sementara PSM dicirikan sebagai sifat disposisi yang relatif stabil, panggilan paling baik dicirikan oleh keadaan situasional kontingensi.
Intensitas
PSM dan panggilan berbeda pada tingkat intensitas yang dikonotasikannya. Bukan berarti PSM tidak bisa menjadi orientasi yang intens. Niscaya, banyak orang menunjukkan komitmen besar untuk pekerjaan pelayanan publik mereka. Panggilan, bagaimanapun, secara eksplisit merangkul gagasan gairah sebagai bagian definisinya (Dobrow dan Tosti-Kharas 2011). Seseorang tidak bisa berkomitmen ringan pada panggilan, tetapi PSM memberikan ruang untuk kurang intens bentuk komitmen pelayanan publik.
Spesialisasi
Orientasi panggilan berkonotasi dengan spesialisasi tingkat tinggi. Pekerjaannya sebagai panggilan cenderung mendefinisikan secara sempit pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan. Spesialisasi tersebut dapat berpusat pada keterampilan tertentu, masalah tertentu, atau panggilan tertentu. Ini perbedaan diilustrasikan dengan menemukan bahwa orang-orang yang tinggi dalam menelepon cenderung kurang fleksibel terhadap perubahan tugas mereka (Bunderson dan Thompson 2009 ). PSM, di sisi lain, belum tentu menyiratkan domain atau bahkan sektor spesialisasi (mis., Andersen, Pallesen, dan Pedersen 2011 ; Coursey et al. 2011 ). Karena disana banyak cara untuk terlibat dalam pelayanan publik, mulai dari peran administratif ke peran teknis, konstruk PSM mempromosikan pandangan yang lebih umum tentang keterikatan seseorang pada pekerjaan.
Tak terelakkan / Inevitability
Salah satu keunggulan unik dari panggilan versi neoklasik adalah rasa "takdir" atau keniscayaan yang menyertainya (Bunderson dan Thompson 2009 ; Dik dan Duffy 2009 ). Orang cenderung mengalami panggilan bukan sebagai sesuatu yang telah mereka pilih melainkan sebagai sesuatu yang telah memilih mereka, seolah-olah pekerjaan mereka “dimaksudkan”. menjadi." Setidaknya dalam retrospeksi, orang cenderung memandang diri mereka sebagai ditarik ke dalam panggilan. Mereka mungkin bernalar, “Hadiah pribadi saya secara unik cocok untuk melayani kebutuhan sosial tertentu; kalau aku siapa diperlengkapi, jangan lakukan pekerjaan ini, siapa lagi?” Dengan cara ini, Panggilan dialami sebagai kebutuhan atau “panggilan transenden” (Dik dan Duffy 2009). PSM, sebaliknya, merangkul pelayanan publik sebagai pilihan yang mungkin dikejar seseorang di antara banyak alternatif karir dan dalam pengertian ini, ini lebih mirip dengan pandangan kontemporer tentang panggilan daripada pandangan neoklasik). Sementara peneliti sudah pasti mengidentifikasi anteseden kunci yang memprediksi munculnya PSM (e.g., Perry 1997 ), konstruk tersebut tidak harus berkonotasi rasa tak terhindarkan.
Proses Penemuan
Ada kesamaan yang signifikan antara bagaimana seseorang menemukan PSM dan yang lain menemukan panggilan. Misalnya, keduanya melibatkan daya tarik yang dirasakan untuk melayani orang lain. Tetapi mengingat logika di baliknya masing-masing konstruksi ini, kami harapkan yang proses yang mendasari penemuan atau pengembangan masing-masing akan berbeda. Penemuan PSM berakar terutama dalam proses sosialisasi. Karena PSM berlabuh, hampir secara definisi, di lembaga formal pemerintahan publik, pemahaman tentang peran PSM hanya dapat muncul dalam pemahaman tentang dan apresiasi terhadap lembaga tersebut. Menjadi tahu dan menghargai lembaga-lembaga itu adalah masalah sosialisasi. Para sarjana berpendapat bahwa PSM didorong oleh campuran afektif, normatif, dan motif rasional (Perry dan Wise 1990). Masing-masing dorongan ini tergantung pada proses sosialisasi dimana karyawan menjadi sadar akan peluang terstruktur untuk publik melayani.
Penemuan “panggilan”, di sisi lain, lebih mengakar proses kognitif individu dari sensemaking. Karena “panggilan” melibatkan pengidentifikasian di mana karunia unik seseorang dapat dimanfaatkan, refleksi diri tentang karunia seseorang sangat penting untuk proses penemuan. Hanya melalui introspeksi seseorang dapat mengenali kognitifnya sendiri “hardwiring” atau, dengan kata lain, menyadari bahwa seseorang cenderung untuk a
pekerjaan tertentu karena bakat dan kemampuan bawaan. Bagaimanapun, penemuan panggilan adalah proses yang melibatkan individu pengertian kognitif tentang hubungannya dengan pekerjaan dan dengan demikian kemungkinan terungkap (baik cepat atau lambat) sebagai hasil dari refleksi diri (Wrzesniewski 2010 ).
Jelas sosialisasi memainkan peran dalam pembentukan rasa panggilan seseorang, sama seperti sensemaking membantu mengarahkan orang ke PSM. Namun, kami berpendapat bahwa, pada akarnya, mekanisme pendorong untuk “panggilan” dan PSM adalah berbeda pengungkit dalam manajerial. Hal ini penting dalam aplikasi praktis terhadap “panggilan” dan PSM, bagaimana mengembangkan alat manajerial untuk mengawasi pegawai panggilan atau PSM. Keduanya memiliki perlakuan yang berbeda. PSM digambarkan sebagai disposisi layanan publik sehingga Manajer dapat memotivasi pegawai tentang arti penting layanan publik, mendemonstrasikan kepemimpinan transformasional dan memberikan pemahaman tentang artinya misi (mis., Wright, Moynihan, dan Pandey 2012 ). Contoh penerapan managerial untuk PSM adalah Grant's (2008a, 2008b) penelitian yang menunjukkan dampak motivasi yang menghubungkan pekerja dengan penerima manfaat dari pekerjaan mereka. Menganugerahkan, mengilustrasikan, misalnya, bagaimana percakapan singkat dengan penerima manfaat dari pelayanan sangat meningkatkan upaya pegawai call center dalam mencari donatur, begitu juga dengan donatur yang tahu manfaat dari uangnya sangat bermanfaat.
Literatur “panggilan” menyarankan beberapa pengungkit manajerial yang berbeda untuk membantu dalam memotivasi pekerja berorientasi layanan. Meskipun memungkinkan bagi manajer untuk menggunakan komunikasi yang menarik untuk ditanamkan karyawan mereka dengan motivasi layanan publik yang lebih besar, seorang manajer tidak dapat dengan sengaja membuat orang lain karena panggilan berakar pada karunia individu yang melekat. Ide melukis visi pelayanan publik tidak asing bagi pengalaman “panggilan” karena orang perlu menemukan kebutuhan eksternal apa yang dapat mereka layani. Namun, lensa “panggilan” mendorong karyawan untuk melihat ke dalam inventarisasi apa yang cocok untuk mereka lakukan.
Panggilan lebih menekankan pada bakat, keahlian, kecocokan dan keistimewaan pekerjaan sehingga manajer yang mengadopsi perspektif panggilan meningkatkan motivasi karyawan akan sangat fokus pada penempatan orang dalam peran yang secara alami mereka cenderung ke arah itu dan dengan cara itu. Karyawan dapat menyesuaikan pekerjaan mereka agar selaras dengan bakat mereka. Mereka akan mendorong, misalnya, pembuatan pekerjaan, di mana karyawan berusaha keras untuk membentuk pekerjaan mereka agar sesuai dengan kekuatan dan hasrat mereka sendiri (Wrzesniewski dan Dutton 2001 ).
Tidak ada pendekatan "senapan". untuk mengelola orang dengan pemanggilan. Itu membutuhkan perhatian untuk reward dan hasrat karyawan individu dan, ketika sumber daya memungkinkan, kemauan untuk menciptakan ruang bagi karyawan untuk bereksperimen. Tugas peran ekstra dan proyek yang selaras dengan panggilan mereka. Akhirnya, konsep “panggilan” memperkenalkan kemungkinan yang harus dilakukan manajer
untuk membantu karyawan dalam meninggalkan posisi lain, bahkan jika mereka berkinerja dapat diterima. Sedangkan PSM hanya mengandalkan konteks pelayanan publik konteks, memanggil memperkenalkan pengamatan bahwa jenis pekerjaan satu dilakukan dalam pelayanan publik sangat penting.
Calling dan PSM: Menuju Agenda Riset
Tinjauan kami tentang PSM dan konsep pemanggilan menyarankan banyak kunci perbedaan di sejumlah pertimbangan (lihat tabel 1). Namun, ulasan kami juga mengungkapkan bahwa ada banyak bidang tumpang tindih dan, yang lebih penting, peluang untuk penyelidikan di mana setiap konstruksi dapat dimanfaatkan untuk menginformasikan yang lain. Misalnya, pemupukan silang pemanggilan dan PSM memberikan berbagai paparan yang dirujuk Bozeman dan Su ( 2015 ) dan itu hanya dapat berfungsi untuk memperkuat PSM sebagai konstruk makna dan tujuan di lapangan administrasi publik. “Panggilan” mungkin cukup memberikan, misalnya, beberapa wawasan mengapa jenis pekerjaan pelayanan publik tertentu gagal untuk “memotivasi” seorang pegawai tertentu, maka Konsep “Panggilan”dapat memberikan manfaat, lensa pelengkap untuk PSM untuk menjelaskan mengapa beberapa karyawan tampak tidak termotivasi sementara yang lain, bahkan dalam pekerjaan serupa, jauh lebih penuh semangat. Literatur PSM, pada gilirannya, dapat memberikan informasi berharga wawasan tentang beberapa pertanyaan luar biasa dalam pemanggilan literatur. Salah satu pertanyaan tersebut adalah peran konteks dalam membentuk sebuah rasa panggilan individu (Thompson dan Bunderson 2009).
PSM, dengan fokusnya pada sektor publik, memberikan gambaran yang kaya tentang atribut dan logika institusional yang membentuk orientasi seseorang terhadap pekerjaan (misalnya, Van Loon, Vandenabeele, dan Leisink 2015). “Panggilan” hampir tidak mempertimbangkan bagaimana struktur kelembagaan dan budaya mempengaruhi kemungkinan pengembangan panggilan. PSM menyediakan konstruksi dan serangkaian tindakan yang memungkinkan sarjana untuk memeriksa bagaimana nilai-nilai organisasi yang berlaku mungkin mempengaruhi pembentukan panggilan. Untuk memberikan langkah pertama menuju pengorganisasian dan secara empiris menjelajahi kemungkinan menarik ini, kami menguraikan beberapa kelompok pertanyaan penelitian yang kami pandang sebagai pusat agenda ilmiah mensintesis PSM dan memanggil penelitian. Kelompok Pertanyaan 1: Menjelajahi Anteseden PSM dan Calling, Apakah anteseden pemanggilan mirip dengan PSM? (Perry 1997). Bagaimana “Panggilan” dan PSM terkait secara empiris?
Kami telah memperdebatkan—sebagian besar secara konseptual/teoretis—panggilan itu dan PSM akan berkorelasi positif tetapi berbeda secara empiris. Menyelidiki perbedaan anteseden adalah salah satu yang berpotensi berbuah jalan untuk lebih menjelaskan kekhasan empiris dari konsep. Dalam literatur panggilan, hanya beberapa penelitian yang telah diselidiki anteseden panggilan penemuan. Konsisten dengan gagasan bahwa panggilan berasal dari karunia unik seseorang, Harzer dan Ruch (2012) telah menemukan bahwa orang lebih mungkin mengalami panggilan saat mereka membawa kekuatan tanda tangan yang melekat pada peran mereka. artinya ada peran bakat dalam “panggilan”, seperti Dobrow dan Heller (2015) telah menunjukkan: “Panggilan” tampaknya terkait dengan kemampuan yang dirasakan, tapi tidak dengan kemampuan sebenarnya, di kalangan musisi muda. Penelitian lain memiliki menunjukkan bahwa “Panggilan” lebih mungkin ketika orang lebih berperilaku
terlibat dalam pekerjaan mereka dan mengalami kenyamanan sosial yang lebih besar (Dobrow2013 ). Selain itu, siswa menganggap panggilan berasal dari kekuatan penuntun, kecocokan unik, dan altruisme (Hunter, Dik, dan Banning 2010 ). Mengingat kurangnya penelitian tentang pemanggilan anteseden, sarjana administrasi publik dapat berkontribusi banyak literatur ini dengan mengeksplorasi prekursor panggilan di antara pegawai negeri.
Sebaliknya, penelitian PSM memiliki fokus yang cukup konsisten anteseden sejak fase awal konstruk (Charbonneau dan Van Ryzin 2016 ; Perry 1997 ; Perry dkk. 2008 ). berbeda penelitan “Panggilan”, beberapa pertanyaan belum sepenuhnya diselesaikan atau digeneralisasi. Misalnya, para peneliti telah menemukan itu identifikasi profesional dan budaya organisasi dapat menghambat atau mendorong beberapa dimensi PSM (Perry 1997). Riset yang juga mempertimbangkan panggilan dan PSM sehubungan dengan mereka anteseden dapat menjelaskan banyak hubungan antara ini konsep. Ini menimbulkan pertanyaan anteseden terkait. Apakah pemanggilan dan PSM hanya masalah kewajiban bangsawan? Artinya, apakah mereka orientasi kerja yang dapat ditemukan hanya dengan sumber daya yang diperlukan dan rekreasi?
Kedua konsep tersebut membawa kemungkinan konotasi hak istimewa. Itu orientasi keadilan sosial yang mencirikan literatur administrasi publik (Wang dan Mastracci 2014) menyediakan ruang yang ideal untuk memeriksa apakah “Panggilan” dan PSM sebagian besar hanya dapat diakses oleh yang beruntung. Sekali lagi, ini adalah area yang sangat membutuhkan penelitian. Berkenaan dengan pemanggilan, Duffy dan Autin (2013) telah menunjukkan bahwa orang-orang muda dengan pendapatan yang lebih tinggi dan pendidikan yang lebih tinggi lebih mungkin untuk mendukung pentingnya menjalankan “panggilan”. Menariknya, bagaimanapun, mereka menemukan bahwa pendapatan dan pendidikan tidak terkait dengan apakah siswa menganggap bahwa mereka sendiri memilikinya sebuah panggilan. Penelitian Wrzesniewski et al. (1997) juga menunjukkan hal itu panggilan dapat diamati bahkan di antara orang-orang yang menempati peran kasar dan siapa yang melakukan "pekerjaan kotor". Apalagi Bunderson dan Thompson (2009) telah menunjukkan bahwa “Panggilan” sebenarnya berhubungan negatif untuk gaji, selanjutnya mempertanyakan gagasan bahwa hanya status sosial ekonomi tinggi dapat mengalami panggilan.
Berkenaan dengan PSM, pertanyaan ini juga tidak jelas. Perry (1997) berhipotesis bahwa pendapatan akan berhubungan positif dengan PSM tetapi menemukan bahwa PSM menurun dengan kekayaan. Houston (2000) menemukan bahwa pendapatan tidak berhubungan dengan lima karakteristik yang mungkin dianggap membedakan pekerjaan pelayanan publik. Di 26 negara mereka survei, Van de Walle, Steijn, dan Jilke ( 2015 , 16) menemukan bahwa “kelompok berpenghasilan rendah dan menengah. . . memiliki preferensi yang lebih kuat untuk pekerjaan publik daripada kelompok berpenghasilan lebih tinggi.” Karena bukti beragam dan jarang di area ini, publik sarjana administrasi harus mengeksplorasi peran hak istimewa dalam pengalaman “panggilan” dan PSM. Apakah ada hubungan sebab akibat antara PSM dan “Panggilan” sedemikian rupa anteseden dari yang lain, mengikuti beberapa arah alami? Kami tahu tidak ada literatur yang memberikan wawasan tentang pertanyaan ini. Mungkin beberapa individu pertama kali mengalami ketertarikan layanan publik dan kemudian menemukan ceruk (panggilan) mereka di dalam bidang. Orang lain mungkin merasa terpanggil untuk jenis pekerjaan tertentu dan baru selanjutnya mengembangkan pemahaman tentang pelayanan publik sebagai motivator. Urutan fenomena ini adalah sebuah pertanyaan penuh dengan kemungkinan untuk eksplorasi empiris.
Kelompok Pertanyaan 2: Menjelajahi Perbedaan Sektor dalam “Panggilan” Apakah tingkat panggilan lebih tinggi untuk pegawai negeri daripada untuk orang yang bekerja di sektor swasta?
Perbedaan intersektor dalam panggilan adalah topik yang belum dijelajahi. Literatur PSM menunjukkan bahwa orang-orang dengan tingkat tinggi PSM tertarik ke sektor publik (Bullock, Stritch, dan Rainey 2015) , dimana beberapa tindakan proksi PSM menunjukkan bahwa hal ini mungkin terjadi menjadi kasus kontemporer di beberapa negara. Tapi tidak ada panggilan penelitian belum secara eksplisit menyelidiki apakah pegawai negeri memiliki tingkat panggilan yang lebih tinggi daripada di sektor swasta. Itu membuat pengertian teoritis untuk mengharapkan tingkat panggilan yang lebih tinggi di sektor publik karena berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sosial, yaitu fitur definisi panggilan. Mungkin mekanismenya di balik perbedaan intersektor ini unik untuk PSM dan panggilan. Kami mungkin mengharapkan kausalitas timbal balik antara PSM dan panggilan dan keputusan untuk bekerja di sektor publik. Namun, relatif terhadap “Panggilan”, PSM tampaknya lebih cenderung bertindak sebagai prediktor seseorang mencari posisi di sektor publik (Clerkin dan Coggburn 2012 ), sedangkan “Panggilan” dapat bertindak lebih seperti hasil publik layanan — yaitu, sesuatu yang lebih mudah ditemukan sebagai hasilnya melayani penyebab.
Kelompok Pertanyaan 3: Menjelajahi Implikasi Manajerial dari PSM dan Panggilan? Bisakah pemanggilan memberikan nuansa dan wawasan tambahan kepada literatur PSM relatif terhadap kepuasan dan sikap karyawan? Apakah manajer mendapatkan lebih banyak "jarak tempuh" dari memanggil pekerjaan layanan publik daripada secara pribadi?
Penelitian telah menetapkan bahwa pegawai sektor publik lebih banyak puas dengan penghargaan intrinsik relatif terhadap karyawan sektor swasta (François 2000). Akibatnya, manajer di sektor publik mungkin mampu mengekstraksi kekuatan motivasi yang lebih besar, relatif terhadap manajer sektor swasta, menghubungkan karyawan dengan tujuan sosial perusahaan/organisasi. banyak bukti empiris yang menunjukkan bahwa PSM meningkatkan komitmen dan kepuasan kerja (Homberg, McCarthy, dan Tabvuma 2015 ). Penelitian “panggilan” juga menunjukkan dampak yang kuat pada sikap karyawan. Misalnya, para sarjana telah secara konsisten menemukan hubungan antara panggilan dan kepuasan hidup (Duffy et al. 2013 ; Duffy, Torrey dkk. 2016), sikap kerja (Willemse dan Deacon 2015 ), dan kebermaknaan (Bunderson dan Thompson 2009 ; Duffy et al. 2014 ). Sekali lagi, ada baiknya mempertimbangkan apakah efek panggilan lebih terasa di sektor publik sejak pekerjaan sektor publik dapat menempatkan premi yang lebih tinggi pada nilai-nilai yang terkait dengan motif layanan murni (Clerkin, Christensen, dan Woo 2017).
Mengingat bahwa PSM dan “panggilan” memiliki efek yang bermanfaat bagi sikap karyawan dan kepuasan, peneliti harus mengeksplorasi apakah ada cara-cara manajer membangkitkan manfaat PSM dan Panggilan dengan karyawan mereka. Secara khusus, kami mengharapkan itu manajer dapat mendorong PSM dengan mengartikulasikan layanan nilai-nilai masyarakat umum dan menekankan imbalan intrinsik yang menyertainya. Mereka mungkin juga memperoleh manfaat PSM dengan menyelaraskan karyawan mereka dengan komunitas umum atau dampak sosial dari pekerjaan mereka (Bellé 2013 ).
Sebaliknya, manajer dapat menumbuhkan panggilan dengan membantu karyawan mengidentifikasi bakat dan kecenderungan unik mereka dan yang spesifik penerima manfaat dari pekerjaan mereka. Sebagai Bunderson dan Thompson ( 2009 ) telah menunjukkan, rasa panggilan penjaga kebun binatang lebih mengakar dalam komitmen mereka terhadap hewan tertentu yang mereka rawat daripada di konservasi pada umumnya (meskipun mereka juga peduli tentang itu). Sarjana juga harus mempertimbangkan implikasi manajerial dari kelalaian terhadap PSM dan Panggilan. Apakah konstruksi merespons berbeda dengan manajemen yang buruk? Kami memprediksi bahwa panggilan akan lebih tahan terhadap penyalahgunaan manajerial daripada PSM. Dengan kata lain, manajer yang buruk memiliki kapasitas untuk “mengalahkan PSM dari kemampuan karyawan mereka” melalui penganiayaan. Tapi panggilan akan bertahan lebih lama karena berakar pada masalah spesifik yang dirasakan ditakdirkan untuk mengatasi, bukan dalam aspek kontekstual pekerjaan. Kita tidak menyarankan bahwa pemanggilan dapat mengatasi penyalahgunaan apapun tetapi itu rentan berkurang terhadap kegagalan manajerial daripada PSM. Memang, wawancara dengan penjaga kebun binatang yang memiliki panggilan menyarankan agar mereka berjuang memikirkan apa pun yang dapat dilakukan manajer mereka yang akan menghalangi mereka dari pekerjaan mereka (Bunderson dan Thompson 2009).
Kapan kerja menjadi ideologis, seperti halnya dengan panggilan, kontrak psikologis seseorang dengan organisasi tumbuh lebih tahan terhadap persepsi pelanggaran (Thompson dan Bunderson 2003). Implikasi bagi pemimpin adalah bahwa PSM adalah keadaan yang membutuhkan pengasuhan manajerial, sedangkan ketika karyawan mengalami panggilan, mereka mungkin lebih mampu mempertahankan motivasi mereka sendiri. Kami buru-buru menambahkan itu ada peluang untuk eksploitasi di sini juga. Pemimpin harus memastikan perlakuan yang adil dan tepat terhadap karyawan dengan panggilan, bahkan jika mereka percaya karyawan akan tetap berkomitmen untuk pekerjaan mereka terlepas dari perawatan yang buruk.
Kelompok Soal 4: Menggali Sisi Gelap PSM dan Panggilan, Akankah kelemahan panggilan lebih jelas, atau kurang, di depan umum? Sama seperti para peneliti telah mulai mengidentifikasi sisi gelap PSM (van Loon et al. 2015 ), para sarjana baru-baru ini mengenali panggilan itu mungkin mewakili pedang bermata dua (Bunderson dan Thompson 2009 ). Studi terbaru telah memperhatikan potensi beban dan kelemahan dari "dipanggil". Seperti yang kami sebutkan sebelumnya, panggilan memiliki dikaitkan dengan terlalu tinggi menilai bakat seseorang (Dobrow dan Heller 2015). Para sarjana juga menyarankan bahwa “Panggilan” dapat menghambat proses pemulihan dari pengalaman kerja yang menantang—mengakibatkan penurunan kemampuan untuk melepaskan diri dari pekerjaan, mengurangi kualitas tidur, dan kurangnya semangat pagi (Clinton, Conway, dan Sturges 2016 ). Selain itu, “panggilan” dikaitkan dengan perasaan yang meningkat kewajiban moral, peningkatan pengorbanan, dan kritik terhadap manajemen dan rekan kerja (lihat Bunderson dan Thompson 2009 ; Schabram dan Maitlis 2017). Para sarjana juga telah menunjukkan bahwa panggilan yang tidak terpenuhi adalah kesulitan bagi karyawan. Ketika seseorang merasakan panggilan tetapi tidak dapat memberlakukannya, dia cenderung melaporkan penurunan fisik dan kesehatan psikologis (Gazica dan Spector 2015 ) dan berkurang kesejahteraan umum (Duffy, Douglass et al. 2016). Berg, Hibah, dan Johnson (2010) telah menunjukkan bahwa orang-orang dengan panggilan yang tidak terpenuhi merasa terdorong untuk memenuhinya di luar pekerjaan atau untuk mengerjakan pekerjaan mereka, memasukkan aspek-aspek dari panggilan mereka. Meskipun secara kolektif temuan ini memberikan gambaran yang serius memanggil, penjelajahan ke sisi gelap juga menunjukkan hal itu pemanggilan menyediakan sumber daya yang memungkinkan orang untuk mengakomodasi tantangan. “panggilan” tampaknya melindungi karyawan dari kelelahan (Duffy, Douglass et al. 2016; Hagmaier, Volmer, dan Spurk 2013). Meskipun membuat tuntutan yang signifikan pada karyawan, menelepon juga tampaknya memberi karyawan sumber ketahanan.
Kami tahu tidak ada penelitian yang mengeksplorasi dinamika ini di depan umum lapangan kerja sektor Memang, mungkin ada dua sisi panggilan lebih menonjol di sektor publik daripada di sektor swasta. gaji cenderung lebih rendah di sektor publik, dan
karyawan dapat memikul lebih banyak beban pengorbanan. Selain itu, taruhan di sektor publik seringkali sangat tinggi—khususnya ketika seseorang bekerja untuk mengatasi masalah sosial yang penting. Kami mengharapkan pegawai negeri dengan panggilan untuk direntangkan lebih tipis antara tuntutan pekerjaan yang bersaing dan kehidupan rumah daripada rekan-rekan sektor swasta mereka. Tapi, pada saat yang sama, kami mengantisipasi bahwa pengalaman “panggilan” akan tumbuh lebih besar kegigihan dalam menghadapi tantangan tersebut. Secara anekdot, kita bisa berpikir dari banyak pemimpin sektor publik yang bertahan dalam pekerjaan mereka meskipun hambatan eksternal, kurangnya penghargaan, dan generasi yang sangat lambat. Konstruk “panggilan” memberikan kekuatan penjelas yang unik untuk memahami fenomena ini.
Kelompok Pertanyaan 5: Menjelajahi Jalur Karir PSM dan Panggilan, Apakah “Panggilan” dan PSM jalan yang berbeda dan berbeda untuk tujuan yang sama?Dalam dua kelompok pertanyaan sebelumnya, kami telah memeriksa potensi hasil pemanggilan dan PSM. Jelas, beberapa dari hasil ini tumpang tindih. Baik PSM dan panggilan telah terbukti lebih membina sikap kerja yang positif dan kepuasan yang lebih besar (Duffy et al. 2013; Homberg, McCarthy, dan Tabvuma 2015 ; Willemse dan Diakon 2015). Tapi kami berspekulasi bahwa PSM dan panggilan mendorong orang untuk ikut jalur ini dengan cara yang berbeda. Beberapa orang mungkin merasa tertarik pelayanan publik karena keinginan umum untuk berguna bagi warga negara dan komunitas. Individu dengan PSM tinggi belum tentu merasa tertarik pada jenis pekerjaan atau tujuan tertentu. Sebaliknya, beberapa orang mungkin merasa tertarik pada pelayanan publik karena panggilan, yang Dik dan Duffy ( 2009 ) gambarkan sebagai "panggilan transenden" untuk menggunakan karunia seseorang dalam tujuan tertentu. Untuk layanan publik berorientasi panggilan, kesejahteraan umum komunitas bukanlah kekuatan pendorong. Sebaliknya, panggilan mendorong orang untuk pelayanan publik karena kegiatan tertentu, penyebab, atau konstituen dalam kebutuhan di mana karyawan merasa diperlengkapi secara unik untuk berkontribusi.
Sifat dari pelayanan publik dengan demikian sangat penting bagi orang-orang dengan sebuah panggilan. Mereka mungkin tidak merasa sangat termotivasi untuk melayani sembarang orang penyebab publik melainkan tertarik oleh satu fokus tertentu. Peneliti harus mempertimbangkan memeriksa proses sensemaking itu mendorong orang untuk melayani publik. Apakah ada perbedaan antara mereka yang datang melalui keinginan umum untuk meningkatkan komunitas mereka versus mereka yang didorong oleh fokus tertentu? Kami mengantisipasi bahwa taruhannya lebih tinggi bagi mereka yang mendekati pekerjaan mereka sebagai “panggilan”. Mereka cenderung mengalami tingkat tertinggi dan terendah yang lebih tinggi, karena kesuksesan dan kontribusi mereka cenderung terfokus pada satu variabel atau sekumpulan variabel terbatas. Orang dengan orientasi PSM mungkin lebih kebal terhadap perubahan pekerjaan mereka karena mereka didorong oleh perspektif keberhasilan yang lebih luas di masyarakat luas; mereka memiliki lebih banyak dimensi untuk dipertimbangkan karena mereka menilai apakah pekerjaan mereka memiliki dampak.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, kami berpendapat bahwa PSM dan panggilan terkait tetapi konsep ortogonal. Mereka sering terjadi bersamaan. Tapi satu bisa diamati tanpa yang lain. Orang sering menemukan rasa panggilan di luar pelayanan publik, dan banyak pegawai negeri yang memamerkan PSM tanpa rasa khusus tentang keniscayaan yang ditunjukkan oleh panggilan. Di dalam Faktanya, mungkin kategori terakhir inilah yang memberi birokrat publik stereotip yang tidak termotivasi. Daripada menyarankan "pacuan kuda" antara PSM dan panggilan, kami berpendapat bahwa mereka saling melengkapi dalam pemahaman kita tentang mengapa seseorang mungkin tertarik, bertahan, dan bahkan mungkin berpisah dari pekerjaan pelayanan publik. Banyak pertanyaan lain, beberapa di antaranya kami telah diuraikan di atas, hadiri persimpangan PSM yang menarik ini dan kontribusi panggilan untuk psikologi kerja.
Entitas publik sering mengandalkan "mengapa" yang mendalam untuk diberikan kepada karyawan cahaya hangat tentang pekerjaan yang mereka lakukan. Motivasi pelayanan publik, penelitian telah membuat kemajuan yang signifikan dalam memberikan jawaban atas "Mengapa." Tapi mungkin peneliti PSM kurang perhatian karena mereka bisa menjadi spesifik dari "di mana" pelayanan publik. Membantu orang menemukan peran yang selaras dengan bakat dan tujuan mereka mereka sangat bersemangat untuk menarik kontribusi penelitian pemanggilan. Bersama-sama, PSM dan panggilan memberikan hasil yang bermanfaat untuk berbagai potensi penelitian dan praktek wawasan.
Komentar
Posting Komentar